Memajukan perikanan budidaya Indonesia butuh peran setiap elemen, baik dari pemerintah, perusahaan swasta, akademisi, paraktisi, maupun masyarakat. Aquatec siap menjadi mitra untuk urusan penyedia sarana dan prasarana budidaya.
Awal Februari lalu, PT Gani Arta Dwitunggal produsen sarana kelautan perikanan dengan Merk Aquatec, menggelar workshop bertajuk “Membuat Keramba Jaring Apung Bundar Do It Yourself” langsung di pabriknya yang beralamat di Kawasan Industri Batujajar Permai Jl. Raya Batujajar Km 2,8 Padalarang-Bandung Barat.
Workshop ini dimaksudkan agar peserta yang hadir menyadari bahwa Indonesia sebagai salah satu Negara kepulauan terbesar di dunia perlu memanfaatkan potensi lautnya dengan menggunakan keramba-keramba jaring apung bundar. Dengan demikian, produksi di sektor perikanan budidaya air laut dapat ditingkatkan.
Owner PT. Gani Arta Dwitunggal Budiprawira Sunadim mengatakan, dengan kondisi laut begitu mendukung, Indonesia mempunyai potensi budidaya ikan yang nyaris tidak bisa diukur. “Pemanfaatan potensi membutuhkan partisipasi swasta dengan didukung oleh pemerintah,” ujar Budiprawira.
Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar, memiliki garis pantai 95.000 km. Ini merupakan 3 kali lipat dari China yang hanya memiliki garis pantai 30.000 km. Selain itu, Indonesia punya luas ZEE 6.159.000 km2, sedangkan China hanya memiliki luas ZEE 877.000 km2. Namun, dalam hasil produksi, Indonesia baru menghasilkan ikan budidaya 3.100.000 ton/tahun, sedangkan China sudah mampu menghasilkan ikan budidaya 39.000.000 ton/tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan laut Indonesia masih jauh tertinggal oleh China. Mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini terjadi karena jumlah keramba jaring apung yang digunakan di Indonesia baru 30.000 unit, sedangkan di China sudah mencapai 1.500.000 unit.
Dari realita tersebut, perikanan budidaya China merupakan yang terdepan karena mereka dapat memaksimalkan pemanfaatan laut untuk perikanan budidaya menggunakan keramba jaring apung. Melalui workshop ini, Aquatec ingin pembudidaya dapat memanfaatkan potensi laut Indonesia dengan membuat keramba jaring apung bundar sendiri. Dengan mengajarkan cara membuatnya, harga keramba dapat ditekan sehingga keramba jaring apung bundar dapat tersebar lebih banyak, dan Aquatec siap menjadi mitra.
General Manager PT Gani Arta Dwitunggal Andi J. Sunadim mengatakan, Aquatec memiliki teknologi penyambungan pipa butt fusion extra dimana ketebalan sambungan pipa 2 kali lebih tebal daripada yang biasa, sehingga 2 kali lebih kuat. Selain itu, penyambungan ini juga dilengkapi dengan 2 membran anti bocor sehingga pipa aman dari kebocoran. Penghubungan pipa dapat dibongkar pasang sehingga proses perangkaian menjadi mudah.
Selain Andi, hadir juga dua pembicara lain seperti Peneliti Ikan Tuna Litbang KKP Agus Cahyadi, S.Pi, M.Si., yang membawakan materi penerapan keramba jaring apung bundar dan sistem tuna pakan mandiri (TPM). Selain itu hadir Sekjen Dewan Kelautan Indonesia Dedy H. Sutisna, MS, yang membawakan materi implementasi produk terapung Aquatec menjadi destinasi wisata.
Respon dari peserta rupanya sangat baik. Kepala Bidang Perikanan dari Dinas Perikanan dan Peternakan Kab. Bandung Barat Chandra Suwarna mengatakan, workshop yang dilaksanakan oleh PT Gani Arta Dwitunggal sangat baik. Pembangunan perikanan membutuhkan inovator dan investor seperti yang dilakukan oleh PT Gani Arta Dwitunggal.
Lanjut Chandra, produk yang dihasilkan oleh PT Gani Arta Dwitunggal memang merupakan produk yang dibutuhkan masyarakat perikanan, yaitu sarana dan prasarana yang sangat high technology.
Setelah paparan, Aquatec mengajak para peserta untuk melihat dapur pembuatan keramba jaring apung. “Dari situ kita melihat pemilihan bahan yang ketat dan komposisi bahan yang digunakan, yaitu bahan prime grade sehingga tak heran hasilnya sangat bermutu,” ungkap Chandra.
Senada dengan Chandra, Farm Manager Indonesia Mariculture Industries Abdul Latif menjelaskan,workshop ini sangat bermanfaat terutama bagi pelaku budidaya, sehingga kita mengetahui bahan pembuatan keramba serta cara membuat keramba jaring apung.
“Produk-produk Aquatec sangat inovatif dan sangat diperlukan untuk perikanan budidaya Indonesia. Saya harap ke depannya acara workshop ini akan terus ada,” tambah Abdul.
Perwakilan Akademisi yang hadir Andi Yuslim Patawari mengungkapkan sebagai anak bangsa sangat bangga dengan produk dalam negeri ini. “Ini bukan hal yang mudah dan murah, karena produk Aquatec memerlukan ide serta penelitian, dan negara harus bangga akan ini,” jelas Yuslim.
Kepala Bidang Pengujian dan Dukungan Teknik Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung, Yulianto. ST menuturkan bahwaproduk Aquatec sudah banyak dimanfaatkan di lapangan dengan baik. “Saya berharap ke depan Aquatec terus berinovasi mengikuti kebutuhan para pelaku budidaya yang selalu berkembang serta menjalin komunikasi, koordinasi, kerja sama, dan komitmen demi keberhasilan budidaya,” tambahnya.
Hadir pula perwakilan dari Maluku dan Maluku Utara yang antusias mengikuti workshop. Pangdam Patimura, Bapak Hendri mengatakan, workshop ini merupakan ajang silaturahmi sekaligus berterima kasih kepada Aquatec atas kerja sama yang telah dijalin dalam mengembangkan perikanan budidaya demi mensejahterahkan rakyat di Maluku.
Setelah workshop ini, Budiprawira berharap akan terus terjalin komunikasi dengan beberapa stakeholder terutama mereka yang sudah datang dari jauh. Melalui workshop diharapkan mereka dapat membuat keramba jaring apung sendiri dengan biaya terjangkau.
Pembudidaya hanya membutuhkan peralatan yang sederhana untuk membuat KJA Bundar, Aquatec siap menjadi mitra
Untuk pertama kalinya PT Gani Arta Dwitunggal produsen Keramba Jaring Apung (KJA) Aquatec menggelar workshop nasional pada 6 Februari lalu di Batujajar Bandung. Mengangkat tema ‘Membuat KJA Bundar Do It Yourself’, workshop ini berhasil menarik 50 peserta dari kalangan pemerintahan dan pembudidaya yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia, jauh di atas target peserta yang semula hanya 30 orang.
Aquatec menghadirkan pembicarapembicara terkenal dengan materi yang menarik. Andi J. Sunadim selaku General Manager PT Gani Arta Dwitunggal memaparkan materi dengan tema ‘Membuat KJA Bundar Do It Yourself’, Dedy H Sutisna (Sekjen Dewan Kelautan Indonesia 2012- 2016) menyampaikan materi ‘Implementasi Produk Terapung Aquatec Menjadi Destinasi Wisata’, serta Agus Cahyadi (Peneliti Ikan Tuna Litbang KKP) memaparkan materi ‘Penerapan KJA Bundar dan Sistem Tuna Pakan Mandiri’.
Dalam sambutannya, Budiprawira Sunadim selaku Direktur Utama PT Gani Arta Dwitunggal menyampaikan bahwa baru-baru ini pemerintah menargetkan produksi kakap putih 5.000 ton untuk tahun ini. Menurutnya, dengan potensi Indonesia yang sangat besar, target itu terlalu kecil. “Dengan target tersebut kita hanya membutuhkan 100 unit KJA Bundar Aquatec diameter 20 m. Sedangkan KJA Bundar Aquatec saat ini sudah terpasang lebih dari 100 unit. Indonesia perlu menargetkan jutaan ton kakap putih setiap tahunnya, ” terang Budi.
Untuk mencapai target jutaan ton tersebut, tentunya produksi KJA bundar tidak bisa dikuasai oleh segelintir perusahaan saja. “Diharapkan melalui workshop ini KJA bundar semakin populer, dan pembudidaya dapat membuat kerambanya sendiri. Pembudidaya hanya membutuhkan peralatan yang sederhana untuk membuat KJA bundar. Aquatec siap menjadi mitra,” lanjutnya.
Peserta tak hanya disuguhkan materi semata. Mereka diajak untuk melihat secara langsung bagaimana KJA Bundar Aquatec dirangkai sesuai dengan persyaratan SNI, sehingga nantinya dapat merangkai sendiri.
Pengenalan KJA Bundar
Dalam pemaparannya, Andi menjelaskan pengetahuan dasar KJA bundar. Dikatakannya bahwa KJA bundar mempunyai volume air yang banyak serta ruang gerak yang luas sehingga cocok untuk ikan perenang cepat. KJA Aquatec terbuat dari Prime Grade High Density Polyethylene (HDPE) PE 100 dengan anti UV.
KJA ini tentunya ramah lingkungan dan tahan terhadap ombak hingga 3 meter. Untuk ketahanannya sendiri, KJA memiliki umur pakai di atas 20 tahun. Saat ini Aquatec sudah memasang 15.000 unit KJA berbagai bentuk dari Sabang sampai Merauke.
“Aquatec bisa membuat KJA Bundar dengan diameter 10 – 60 meter. Diameter keramba adalah pertimbangan penting dalam budidaya karena berhubungan langsung dengan volume budidaya dan panen ikan. KJA bundar diameter 10 m mampu memanen kakap putih sebesar 10 ton/ siklus sedangkan diameter 20 m mampu menghasilkan 50 ton/siklus, semakin besar semakin efisien.” jelas Andi.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa konstruksi KJA Bundar terdiri dari kerangka KJA, sistem net, dan sistem jangkar. Kerangka KJA adalah komponen yang utama dan paling sulit dibuat sehingga menjadi fokus workshop kali ini, sedangkan net dan jangkar bisa didapatkan di Aquatec ataupun tempat lain. Pada workshop kali ini peserta juga diajak untuk melihat secara langsung pembuatan kerangka KJA bundar.
Untuk penyambungan pipa, Aquatec menggunakan penyambungan pipa dengan metode butt fusion. Butt fusion adalah metode penyambungan pipa dengan pemanasan. Mesin ini mudah ditemukan di pasaran dan satu mesin bisa menyambung pipa beragam diameter. Harganya cukup terjangkau, tergantung pada diameter pipa yang ingin disambung. “Hanya dengan modal butt fusion kita sudah bisa membuat KJA,” ungkapnya.
Aquatec menciptakan inovasi metode butt fusion extra, dimana butt fusion extra memiliki ketebalan sambungan 2 kali lebih tebal sehingga 2 kali lebih kuat dibandingkan butt fusion standar, Dan juga memiliki 2 sekat anti bocor. “Kelebihan KJA Bundar Aquatec adalah menggunakan butt fusion extra sehingga alat apung aman dari kebocoran dan sambungannya bisa dibuka tutup sehingga proses perangkaiannya mudah,” tambah Andi.
Dalam membuat KJA HDPE tentunya Aquatec sangat memperhatikan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Semua produk Aquatec sudah memenuhi persyaratan SNI. Untuk KJA Bundar ukuran 10-20m pemerintah menetapkan dua syarat utama yakni daya apung yang cukup untuk memanen (minimal 100 kg/m keliling), dan ketebalan pipa minimal 8,5 mm. “KJA Bundar Aquatec sendiri memiliki daya apung per m keliling adalah 106 kg/m keliling dan ketebalan pipa lebih dari 8,8 mm,” tegas Andi.
Implementasi KJA Bundar
Agus Cahyadi menyampaikan hasil penelitiannya tahun 2013 – 2015 menggunakan sistem Tuna Pakan Mandiri (TPM). Sistem TPM merupakan salah satu alat tangkap yang digunakan di offshore untuk mengumpulkan tuna masuk ke jaring tanpa pemaksaan.
Sistem TPM menggunakan KJA Bundar Aquatec. “Kami memilih Aquatec karena memiliki sumber daya manusia dan alat yang lengkap dan cocok untuk proyek ini. KJA bundarnya juga memenuhi standar yang kami butuhkan seperti bahan HDPE anti UV, dan diameter playing ground 35 m,” ucap Agus.
Ditambahkan Agus, dengan dirangkai sedemikin rupa, ternyata menarik banyak tuna yang masuk ke TPM tersebut tanpa paksaan. “Semoga ke depan kerjasama dengan Aquatec dapat terus berlanjut,” tutup Agus.
Indonesia memiliki potensi wisata bahari yang sangat besar. Akan tetapi belum digali dengan maksimal. Dedy H Sutisna mengatakan dalam presentasinya, melalui produk-produk Aquatec seperti Rumah Apung, Dermaga Apung, KJA HDPE, Jukung dan sebagainya dapat dibangun wisata yang terintegrasi.
“Dengan destinasi wisata dari produkproduk Aquatec saya melihat penigkatan pengunjung yang signifikan. Contohnya Pasar Apung Aquatec di Losari Makassar, yang awalnya hanya menargetkan 300 pengunjung, sekarang sudah mencapai 3000 orang pengunjung setiap bulannya,” jelas Dedy.
Lebih lanjut Dedy menjelaskan bahwa Indonesia bisa bisa membuat destinasi wisata bahari dengan lebih murah. Aquatec tidak menggunakan beton, dan saat pembangunan lingkungan tidak terganggu. Produk HDPE Aquatec lebih murah dan ramah lingkungan.