loader
ID EN

Aquatec Sokong Tekonologi Budidaya Kerapu

Teknologi KJA Aquatec telah diaplikasikan langsung oleh berbagai pelaku usaha kerapu baik swasta maupun pemerintah.

Beranjak dari permintaan pasar yang terus meningkat dari tahun ke tahun, budidaya kerapu dalam negeri juga terus bertumbuh. Banyak pelaku yang melirik untuk mengembangkan usaha budidaya kerapu baik itu skala kecil maupun pada tingkat skala industri.

Tentunya dukungan teknologi menjadi sangat penting untuk menunjang keberhasilan budidaya. Salah satunya teknologi wadah budidaya memegang peranan penting. PT Gani Arta Dwitunggal yang dikenal dengan brand Aquatec tak henti berinovasi menciptakan teknologi keramba jaring apung (KJA) yang dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan budidaya kerapu.

Aplikasi Teknologi

Teknologi KJA Aquatec telah diaplikasikan langsung oleh berbagai pelaku usaha baik swasta maupun pemerintah. Sebut saja Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo yang sudah tersohor sebagai ‘rumah ikan kerapu’. Pasalnya semua jenis ikan kerapu dikembangkan dan dibudidayakan balai tersebut, termasuk kerapu hasil persilangan (hybrid).

Kepala BPBAP Situbondo Ujang Komarudin mengungkapkan, sebagai ‘rumah ikan kerapu’ BPBAP Situbondo memiliki induk – induk kerapu yang sangat produktif baik kerapu macan, bebek, kertang, batik, dan spesies kerapu lainnya. BPBAP Situbondo memproduksi jutaan butir telur dan benih kerapu setiap bulannya untuk pembenih dan pembudidaya kerapu di berbagai wilayah di Indonesia. Selain memproduksi telur dan benih, BPBAP Situbondo juga memiliki 5 instalasi pengembangan budidaya untuk pembesaran.

Ujang mengatakan, dirinya telah lama mengembangkan teknologi KJA dengan Aquatec, demi menghasilkan KJA yang ideal untuk membesarkan kerapu. Salah satu alasan untuk pengembangan KJA adalah karena lahan yang dibutuhkan untuk membesarkan kerapu tidak sedikit, sedangkan lahan darat semakin terbatas dan mahal. ”KJA dibutuhkan untuk peningkatan produksi kerapu yang Balai miliki, juga untuk spesies ikan lainnya,” ungkap Ujang.

BPBAP Situbondo berharap pemerintah terus menambah sarana KJA untuk terus mengembangkan industri perikanan budidaya di Situbondo. Ujang menginformasikan, BPBAP Situbondo telah menggunakan KJA HDPE dari Aquatec sejak 2014 lalu. Awalnya hanya beroperasi di air payau, kini BPBAP Situbondo telah berekspansi ke tengah laut setelah teruji bahwa KJA Aquatec mampu menghadapi ombak besar. Saat ini BPBAP Situbondo memiliki 66 lubang KJA Aquatec yang berlokasi di Pecaron, dan tengah bekerjasama dengan Aquatec mengembangkan KJA HDPE bundar lepas pantai (offshore). KJA offshore ini sengaja ditaruh di lokasi yang berombak untuk diuji kekuatannya.


KJA Untuk Pembudidaya

Tidak hanya pengembangan teknologi budidaya di Balai saja, Aquatec juga secara nyata mengembangkan teknologi budidaya kerapu di tingkat pembudidaya. Misalnya saja di Pandeglang Banten.

Didi Penyuluh Perikanan Pandeglang mengungkapkan, pada 2014 lalu Aquatec bersama Kementerian Pembangunan Daerah dan Transmigrasi, Direktorat Jenderal Percepatan Daerah Tertinggal, memberikan bantuan KJA HDPE yang dirancang khusus untuk pembesaran spesies kerapu sebanyak 50 KJA (200 petak) kepada 50 kelompok.

“Semula pembudidaya di sini pakai KJA kayu, kemudian ada bantuan dari Aquatec dan Kementerian. Sekarang teman–teman pembudidaya sudah pakai KJA HDPE, sehingga budidaya kerapu lebih mudah dan berkembang,” ucap Didi saat diwawancarai Redaksi E-Magazine Marikultur beberapa waktu lalu.

Didi mengungkapkan, rata-rata kelompok pembudidaya kerapu di Pandeglang dapat menghasilkan panen sekitar 375 kg per siklus per petak KJA Aquatec. Semula mayoritas penjualan adalah ekspor secara hidup ke China dan Hongkong karena harganya sangat tinggi. Namun, sejak dilarangnya kapal angkut dari luar negeri mengangkut ikan langsung dari KJA, penjualan sempat menurun, dan kerapu sempat dijual di pasar lokal dengan harga yang rendah.

Untungnya, kini pasar baru telah ditemukan di Jakarta dengan harga yang tinggi. “Kalau sekarang sudah tidakada kapal angkut dari luar negeri masuk untuk angkut kerapu, sekarang kerapu dibawa ke Jakarta pakai pesawat. Untuk hasil panen kerapu macan, harga jual di Jakarta adalah Rp 170 ribu per kg,” pungkas Didi.

Pengembangan budidaya kerapu juga dilakukan Aquatec di Pesisir Selatan. Ikut angkat bicara, Zaitul Ichlas yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Pesisir Selatan mengungkapkan, di Teluk Painan berkembang budidaya kerapu sejak 2011, yang dulunya pakai KJA kayu telah bergeser ke KJA HDPE Aquatec, karena ketahanannya lebih baik dan perawatannya mudah,” ucap Zaitul saat diwawancara Redaksi E-Magazine Marikultur.

Bahkan dua tahun lalu, Zaitul mengembangkan pola bertingkat untuk budidaya kerapu di KJA. “Jadi tiap petak KJA Aquatec dibuat bertingkat–tingkat dengan sekat sehingga kepadatannya lebih tinggi dan produktivitasnya meningkat, tiap petak dibuat tiga tingkat sehingga kepadatan mencapai hampir tiga kali lipat,” kenang Zaitul.

Modifikasi teknologi budidaya ini sayangnya tak bisa ia kawal, karena kini ia harus pindah tugas ke Dinas Pertanian. Namun menurutnya KJA Aquatec mumpuni untuk modifikasi teknologi yang telah ia terapkan bersama kelompok pembudidaya di Painan Pesisir Selatan. “KJA Aquatec memiliki keunggulan berupa ketahanan yang kuat terutama dari terpaan ombak ketimbang KJA kayu, sehingga untuk kita modifikasi untuk kepadatan lebih tinggi bisa mendukung,” ucap Zaitul. (Adv)

PT. Gani Arta Dwitunggal

Kawasan Industri Batujajar Permai Km 2,8 Padalarang

Marketing: Glenn +62 812 2167 3288

Website: www.aquatec.co.id  www.youtube.com/c/AquatecIndonesia