loader
ID EN

GELORA BUDIDAYA IKAN BUBARA DI AMBON

Ikan Bubara kian berkembang, kabar baiknya sudah dikuasai teknologi Pembesaran dan Pembenihannya

Foto : Ikan Bubara / Ikan Kuwe

Sumber : wikipedia.id


Ikan Kuwe atau dalam bahasa Maluku disebut ikan bubara merupakan salah satu jenis ikan permukaan (pelagis).  Ikan yang sangat digemari oleh masyarakat ini hidup pada perairan pantai dangkal, karang, dan batu karang.

“Pada tahun 2017, di beberapa restoran sea food harga ikan kuwe berukuran 300-400 gr berkisar Rp. 75.000/kg,” Penanggung Jawab Workshop Budidaya Laut Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Ambon Lexon. H. J. Tingloy.

Foto : Lexon. H. J. Tingloy.

Sumber : bp3ambon-kkp.org

Lexon mengatakan, famili carangidae ini merupakan salah satu jenis kelompok ikan pelagis yang mempunyai nilai ekonomis penting.  Ikan dari famili ini sangat digemari oleh masyarakat Maluku terutama dari jenis ikan bubara.


Di Teluk Ambon bagian dalam keberadaan ikan-ikan ini hampir setahun 2-3 siklus sering ditangkap oleh nelayan sekitar teluk dengan menggunakan alat pancing, jaring insang, jaring pantai, bubu dan bagan.

Meskipun ikan famili carangidae adalah ikan pelagis, kata Lexon, namun sesungguhnya ikan ini dapat dibudidaya di keramba jaring apung (KJA).  Ikan bubara memiliki beberapa keunggulan antara lain; tidak memerlukan perawatan yang terlalu intensif sebagaimana ikan kerapu tahan terhadap penyakit, mampu beradaptasi pada perubahan kualitas perairan yang ekstrim, ikan bubara merupakan ikan yang rakus sehingga pertumbuhanya relatif cepat.

Ikan bubara mempunyai prospek yang cukup baik untuk dibudidayakan dalam KJA.  Salah satu keunggulan budidaya ikan dalam KJA adalah waktu panen dapat diatur menyesuaikan harga ikan di pasar sehingga akan diperoleh harga jual yang lebih tinggi.

Pengembangan ikan Bubara di KJA, di Indonesia khususnya di daerah Maluku dan sekitar Papua sangat strategis karena sumberdaya alamnya yang masih produktif, dan dari faktor ekonomis dapat meningkatkan pendapatan / kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan.

Untuk mendukung keberhasilan usaha ini sangat diperlukan teknologi dan manajemen budidaya yang memadai.  Saat ini telah dilakukan usaha budidaya ikan Bubara di BPBL Ambon dalam program pengembangan budidaya air laut, mulai dari pemeliharaan larva di bak terkontrol hingga pembesaran di KJA sampai dengan panen yang lebih produktif.

Langkah BPBL Ambon ini ternyata sejalan dengan program Pemerintah Maluku yang menjadikan Teluk Kotania dalam sebagai kawasan Minapolitan Budidaya di Kabupaten Seram Bagian Barat.  Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku merupakan salah satu lokasi pengembangan kawasan budidaya.

Lexon mengatakan, prospek budidaya ikan Bubara pada saat ini dinilai sangat menguntungkan, dengan permintaan yang tinggi khusus dalam negeri, apalagi ikan Bubara dikenal dengan rentang waktu pemeliharaan pembesaran lebih cepat (5-6 bulan).

Lanjutnya, hasil produksi ikan Bubara sebagian besar langsung dibeli oleh rumah-rumah makan ikan yang tersebar di seluruh wilayah pulau Ambon dan sekitarnya, serta untuk konsumsi masyarakat.  Produksi ikan bubara rata-rata per tahun adalah 3-5 ton per tahun.

“Penyebaran ikan bubara hanya masih bersifat lokalan, untuk pembelian di luar daerah masih dalam kapasitas sedikit. Harga per kilogram ikan Bubara cukup tinggi dikisaran 75.000/kg,” kata Lexon.

Untuk dalam pulau Ambon sendiri permintaan ikan Bubara bagi rumah-rumah makan belum dapat terpenuhi dengan baik dan masih dianggap kurangnya stok ikan bubara.  Hal ini, dikarenakan kesukaan Masyarakat Pulau Ambon yang gemar memakan ikan.

Foto : Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan

Sumber : Malukupost.com

Kepala BPBL Ambon, Tinggal Hermawan mengatakan, “BPBL Ambon sudah mampu menyuplai benih ikan bubara secara mandiri, kapasitas produksi persiklus adalah 50.000 ekor, dengan lama waktu produksi dari telur menetas hingga ukuran 5 cm adalah 3 bulan.”

Pengembangan produksi ikan bubara di BPBL Ambon sudah stabil dengan induk-induk yang sudah bisa memijah secara teratur dengan bantuan suntik hormon.

“Target BPBL Ambon untuk ikan bubara di tahun 2018 adalah meningkatkan produksi hingga minimal 600.000 ekor per tahun, dengan perbaikan teknologi pemeliharaan mulai dari prosedur dan penggunaan teknologi terkini serta menciptakan benih yang lebih cepat pertumbuhannya,” ungkapnya.

Pasar untuk benih ikan bubara adalah kota Ambon, Tual, Ternate, dan Jakarta serta Kabupaten Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat.  Untuk ikan konsumsinya pemasaran baru lokal pada rumah makan yang ada di Ambon.

“Untuk perusahaan yang menampung hasil budidaya ikan bubara belum ada karena untuk memenuhi kebutuhan rumah makan saja masih kekurangan stocknya,” kata Tinggal.

Pembesaran Ikan Bubara

Foto : Koordinator Divisi Produksi Calon Induk BPBL Ambon Rochman Subiyanto

Sumber : kkp.go.id

Senada dengan Tinggal, Koordinator Divisi Produksi Calon Induk BPBL Ambon Rochman Subiyanto mengatakan, “Prospek pengembangan usaha pembesaran ikan bubara sangat menjanjikan pemenuhan kebutuhan lokal ikan bubara ukuran konsumsi,karena rumah makan yang tersebar di kota Ambon masih tinggi, mengingat animo masyarakat terhadap konsumsi ikan ini cukup baik.”

  Keterbatasan stock ikan ukuran konsumsi ini menjadikan BPBL Ambon senantiasa berinovasi dalam menemukan solusi berupa aplikasi teknologi budidaya sederhana yang mampu diterapkan oleh masyarakat pembudidaya secara luas.

  Lanjut Rochman, Uji coba terus dilakukan melalui kegiatan perekayasaan seperti pengkajian padat tebar ideal, kombinasi pakan maupun perlakuan lainnya yang akhirnya diharapkan dapat menurunkan nilai FCR dengan tingkat kelangsungan hidup atau Survival Rate ikan tinggi, sehingga nilai produksi ikan ukuran konsumsi akan naik, dan tentunya secara ekonomi akan menguntungkan bagi pembudidaya.

Foto : Tebar Benih Ikan Konsumsi Laut BPBL Ambon di Keramba Jaring Apung (KJA) AquaTec

Sumber : bpblambon-kkp.org

Teknologi budidaya pembesaran ikan bubara yang dilaksanakan oleh BPBL Ambon dilakukan dengan menggunakan keramba jaring apung Aquatec. KJA Aquatec telah dipakai oleh BPBL Ambon sejak tahun 2013 sebanyak 178 petak dan dipilih karena perawatannya yang mudah dan ramah lingkungan, juga memiliki ketahanan terhadap ombak dan cuaca yang sangat baik. KJA memiliki ukuran 3 x 3 x 3 meter/lubang, padat tebar yang dilakukan berkisar 500-750 ekor/lubang dengan lama waktu pemeliharaan sekitar 4-6 bulan dan ukuran panen ± 250 – 300 gr/ekor. Produksi budidaya ikan Bubara di Ambon saat ini belum mencukupi kebutuhan pasar lokal sehingga masih dibutuhkan tambahan KJA.

  “Salah satu upaya dalam meningkatkan hasil produksi ikan di KJA yang selama ini dilakukan adalah melakukan pengkayaan pakan dengan penambahan vitamin atau suplemen makanan yang mengandung asam lemak Omega-3 kedalam pakan yang akan diberikan. Pemberian tersebut dilakukan secara rutin setiap minggu,” kata Rochman.

  Kendala yang sering ditemui dalam budidaya ikan bubara di KJA adalah perubahan atau fluktuasi parameter kualitas perairan akibat curah hujan yang cukup tinggi seperti di musim hujan, yang memicu terjadinya penurunan DO dan salinitas perairan bahkan perairan menjadi keruh akibat banyaknya sedimen terlarut yang terbawa dan masuk dalam perairan. Selain itu, musim hujan juga memberikan kendala ombak yang tinggi dan cuaca yang ekstrim. Untungnya KJA Aquatec yang digunakan dapat bertahan dengan baik dalam kondisi cuaca tersebut, sehingga kegiatan budidaya dapat terus berlangsung dengan lancar.

Foto : Keramba Jaring Apung (KJA) dan Rumah Apung AquaTec

Perubahan cuaca secara tiba-tiba kadang juga menyebabkan naiknya pertumbuhan mikroalga tertentu atau blooming sehingga mampu menyebabkan ikan menjadi stress dan mengalami kematian.

  “Tips dan trik dalam berbudidaya harus tetap ulet, tekun, sabar, disiplin dan tawakal.  Usaha budidaya ikan memiliki resiko yang cukup tinggi karena melibatkan organisme hidup.  Diperlukan sikap konsisten dalam menjalankan usaha budidaya ini,” tambahnya.

  Lebih jauh Rochman menuturkan,”bentuk pembinaan pada pembudidaya, melakukan sinergitas dengan instansi terkait, penyuluh perikanan, dan mengoptimalkan perikanan dalam melakukan pembinaan teknik lapangan, memberikan paparan informasi teknologi terkini pada pembudidaya menurut kaidah atau standar budidaya yang telah ditetapkan.”

  Pembinaan ini dilakukan untuk manajemen pembudidaya, penguatan kelembagaan kelompok sehingga terwujud persamaan tujuan dalam kelompok pembudidaya untuk menjalankan usaha budidaya ikan yang nantinya diharapkan memperoleh kenaikan pendapatan.

  Budidaya ikan kuwe/bubara harus ditingkatkan dan dikenal secara nasional.  Diperlukan usaha dan kerjasama dalam melakukan pengenalan atau promosi terkait keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh komoditas ikan bubara sehingga penyebaran kegiatan usaha pembesaran ini akan semakin luas.

  Hal ini tentunya harus didukung dengan ketersediaan benih yang memadai guna menyuplai kebutuhan benih bubara untuk pembesaran. “Membentuk jejaring pasar atau usaha yang solid sehingga informasi kebutuhan pasar akan senantiasa terupdate setiap waktu dan kebutuhan ikan bubara ukuran konsumsi selalu tersedia,” pungkas Rochman.

Foto : Keramba Jaring Apung Bundar Buttfusion Ekstra AquaTec di Ambon