loader
ID EN

BBPPBL Gondol Kembangkan Teknologi Budidaya Laut dengan Keramba HDPE Aquatec

Atasi kematian Tuna Sirip Kuning dalam bak dengan kerambaHDPE berdiameter besar

Berbicara mengenai pengembangan teknologi budidaya laut di Indonesia, Balai Besar Penelitian Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL) Gondol Bali meru­pakan salah satu yang paling berkontribusi. Unit pelaksana teknis di bawah Kemen­terian Kelautan dan Perikanan ini telah lama melakukan pengembangan teknologi budidaya laut berbagai komoditas unggulan ekspor Indonesia selain udang.

Bambang Susanto, Kepala BBPPBL Gondol menginformasikan, komoditas yang pengembangan teknologinya sudah diaplikasikan ke masyarakat dan menda­patkan respon yang baik diantaranya adalah ikan kerapu, bandeng, dan kerang abalon. Sementara komoditas unggulan lain yang masih dikembangkan diantaranya adalah lobster, tuna, dan teripang.

“Kami terus berupaya mengembang­kan berbagai komoditas ekspor dengan tek­nologi budidaya laut yang dimiliki mengguna­kan fasilitas Keramba Jaring Apung/KJA HDPE,” tutur Bambang. Lanjut dia, sesuai amanat, BBPPBL Gondol terus berupaya untuk mewujudkan lembaga penelitian yang terkemuka dalam penyediaan data, informasi, dan teknologi budidaya laut.

Budidaya Tuna

Indonesia dikenal sebagai produsen terbesar tuna jenis sirip kuning (yellowfin tuna), dengan produksi 75 % dari total tuna sirip kuning dunia. Sayangnya over fishing (tangkap berlebih) menyebabkan populasi tuna yang memijah di perairan Indonesia terus menurun dan mulai terancam.

Di tengah hasil tangkap yang turun, solusi mempertahankan eksistensi tuna sirip kuning yang dirasa paling tepat adalah dengan budidaya. Saat ini BBPPBL Gondol sedang mengembangkan budidaya tuna sirip kuning dan telah berhasil memijahkan tuna sirip kuning di keramba HDPE.

Gunawan, Peneliti tuna sirip kuning di BBPPBL Gondol menerangkan, dalam kegiatan pembudidayaan tuna sirip kuning, calon induk diperoleh dari perairan Laut Bali Utara sebanyak kurang lebih 200 ekor dengan ukuran 0,5 – 1,0 kg. Tuna dianggap sebagai indukan bila telah berukuran 20 – 30 kg dengan waktu pemeliharaan selama satu tahun.

Di keramba, tuna diberi pakan dua kali sehari. Calon indukan diberi pakan berprotein tinggi, yaitu ikan layang dan cumi dengan rasio 1 : 1. Sedangkan di dalam pakan segar tersebut ditambahkan vitamin sebanyak 2,5 % dari jumlah pakan ikan.

Lebih lanjut ia memaparkan, se­belumnya upaya budidaya tuna terhalang wadah pembenihan dari bak beton. Karakter tuna yang memiliki daya jelajah tinggi mem­buat pasangan tuna yang berkejaran saat musim kawin tertabrak dinding sehingga mati. ”Penggunaan keramba HDPE ini diharapkan membuat proses pembenihan menjadi lebih lancar,” ungkap Gunawan.

Penggunaan Keramba HDPE

Sambung Gunawan, mengatasi persoalan wadah kini tim peneliti telah menggunakan empat unit keramba HDPE produksi Aquatecuntuk pemeliharaan tuna, yaitu tiga unit ukuran diameter pelampung 50 m dengan ukuran mata jaring 2.5 inch dan kedalaman jaring 9 m, dan satu unit ukuran diameter pelampung 35 m. Menam­bahkan Gunawan, teknisi tuna di BBPPBL Gondol, Ananto mengatakan, kegiatan penelitian pembenihan tuna sirip kuning memerlukan keramba yang tidak semba­rangan, harus yang memiliki standar tinggi.

Lanjutnya, alasan BBPPBL Gondol menggunakan keramba Aquatec karena awet dan tahan dari terpaan ombak besar. Dalam hal ini perairan Bali utara tempat penelitian pembenihan tuna sirip kuning BBPPBL Gondol adalah perairan yang me­miliki kekuatan ombak yang cukup besar.

Untuk kegiatan penelitian pembenihan ikan tuna sirip kuning, BBPPBL Gondol menggunakan keramba berbentuk bundar. Bentuk ini disesuaikan dengan habitat asli ikan tuna yang merupakan perenang cepat. “Keramba Aquatec sangat bermanfaat untuk menunjang kegiatan penelitian dan pengembangan budidaya laut di BBPPBL Gondol mulai dari pembenihan hingga pembesaran,” ungkap Ananto.

Bambang ikut menjelaskan, setelah 6 tahun menggunakankeramba HDPE untuk pengembangan pene­litian budidaya laut dibandingkan dengan keramba berbahan bambu atau kayu, hasilnya lebih optimal. “Jika menggunakan keramba kayu atau bambu setelah beberapa tahun akan rusak dan lapuk, dengankeramba HDPE lebih awet perawatannya juga lebih mudah,” tutur Bambang.

Lebih jauh ia mengatakan, selain mu­dah dan tahan lama, keramba HDPE dari Aquatec ini juga memiliki berbagai macam bentuk sehingga bisa digunakan untuk berbagai macam kultivan (budidaya). “Kalau dari bentuknya kita menggunakan berbagai macam bentuk keramba HDPE, ada yang kotak, bulat, dan oktagonal. Kalau keramba bulat untuk tuna, yang kotak untuk kerapu, lobster, dan kegiatan lain, sedangkan yang oktagonal untuk kerapu dan benih,” jelasnya.

Selain itu untuk menunjang pengembangan teknologi budidaya laut, saat ini BBPPBL terus meningkatkan sarana dan prasarana yang dimiliki. BBPPBL Gondol diantaranya sudah memiliki sarana pemeliharaan larva dan pendederan, media pemeliharaan induk, hatchery (pembenihan), tempat pemeliharaan plankton, keramba rootblower sebagai sumber aerasi, pompa air sumber air laut, laboratorium pengolahan pakan, laboratorium kimia, laboratorium biologi, laboratorium patologi dan biotek­nologi, serta cold storage. Sarana prasana BBPPBL Gondol terbilang sangat lengkap dan siap menghadapi tantangan globalisasi. lTROBOS