loader
ID EN

Garap Perikanan dan Wisata Bahari Tanjung Lesung Bersama Aquatec

Tanjung Lesung Banten kian ramai dengan aktivitas wisata bahari dan budidaya perikanan

Tidak salah menjadikan Tanjung Lesung sebagai destinasi prioritas, satu diantara 10 Bali Baru yang diluncurkan Presiden Joko Widodo belum lama ini. Teluk yang terletak di Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten itu menyimpan potensi bahari yang lengkap. Ada hamparan pasir putih sepanjang 15 kilometer dan kekayaan biota laut yang beragam. Terdapat Pulau Liwungan yang posisinya di tengah teluk, cocok untuk objek wisata bahari.

Melihat potensi tersebut, tak heran jika pemerintah yakin Tanjung Lesung bisa menjaring setidaknya 1 juta wisatawan mancanegara pada 2019 mendatang. Jaraknya yang hanya sekitar 180 kilometer dari Ibukota Jakarta tidak terlalu jauh dan bisa menarik wiasatawan domestik maupun mancanegara. Saat jalan tol Serang-Panimbang sepanjang 84 km nanti jadi, maka perjalanan dari Jakarta tidak akan lebih dari 2,5 jam saja.

Selain menghadirkan potensi wisata bahari, Tanjung Lesung juga memiliki potensi perikanan yang kini sudah banyak digarap masyarakat setempat. Hal ini terlihat dengan banyaknya Keramba Jaring Apung (KJA) modern yang digunakan untuk membudidayakan ikan laut.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Pandeglang telah banyak berupaya mengembangkan potensi lokal yang ada di wilayahnya. Kepala Dinas DKP Kabupaten Pandeglang, Tata Nanzar Riadi menjelas­kan, pihaknya selalu ikut serta dalam setiap program pemerintah pusat untuk mengem­bangkan komoditas perikanan yang ada. Hal tersebut mencakup menyediakan benih-benih berkualitas, memberikan penyuluhan dan bimbingan teknis, membantu pemasaran, dan menyalurkan bantuan baik dari daerah maupun dari pusat.

Sistem Koperasi

Menurut Tata, saat ini komoditas perikanan yang dikembangkan oleh DKP Pandeglang adalah budidaya ikan baik ikan air tawar maupun air laut. Untuk budidaya ikan air tawar, komoditas yang menjadi sorotan adalah pengembangan budidaya ikan mas, lele, dan nila. Sedangkan komoditas budidaya laut yang dikembangkan adalah ikan kerapu, kerang hijau, dan rumput laut.

Komoditas kerapu sedang gencar untuk diproduksi secara masal oleh para pelaku di Kabupaten Pandeglang. Salah satu sentra budidaya ikan kerapu berada di daerah kawasan wisata Tanjung Lesung, tepatnya di daerah Panimbang, Cipanon, Kabupaten Pandeglang. “Budidaya kerang hijau dan ikan kerapu dikembangkan dengan sistem keramba jaring apung,” ujar Tata.

Dalam menjalani usaha budidaya kerapu ini, para pelaku diberikan bantuan oleh DKP Kabupaten Pandeglang berupa benih, pakan, dan keramba tradisional maupun modern. Namun karena keramba tradisional terbuat hanya dari kayu dan drum, keramba tradisional tidak mampu diterjang gelombang dan hanya dapat digunakan 6 bulan saja.

Tata mengatakan, keramba tradisional yang telah diterjang ombak biasanya tidak bisa digunakan untuk berproduksi kembali. Dengan adanya permasalahan tersebut, dibentuklah suatu sistem koperasi yang dianggotai para pembudidaya ikan dengan metode keramba jaring apung HDPE modern.

Didi Supardi, Ketua Koperasi Alam Bahari menyampaikan, koperasi Alam Bahari terdiri atas 52 kelompok dengan rata-rata 10 orang per kelompoknya. Para anggota koperasi paling banyak memilih untuk memelihara ikan kerapu dengan rata-rata tebar benih sekitar 4425 ekor/kelompok. Pakan yang digunakan merupakan produk hasil pembuatan pakan mandiri oleh salah satu kelompok anggota koperasi yang diberikan pada saat ikan masih berukuran kecil. Jika sudah cukup besar, ikan rucah digunakan sebagai pakan tambahan.

Dari usaha yang telah dilakukan oleh para pembudidaya tersebut, Didi mengatakan, ang­gotanya berhasil untuk memanen ikan kerapu dalam keramba jaring apung HDPE modern dengan hasil yang memuaskan. “Rata-rata hasil panen yang didapatkan sekitar 6 -7 kuintal/ kelompok setiap siklus 6 bulan,” Kata Didi. Hasil panen ikan kerapu tersebut dipasarkan ke Jakarta dengan harga Rp 100.000 – Rp 120.000/Kg. Hal ini setara dengan pemasu­kan senilai 3,74 miliar setiap 6 bulan bagi Koperasi Alam Bahari. Jika dikalkulasikan, Didi mengaku, keuntungan yang didapatkan sekitar 60 % dari harga jual.

Keramba Jaring Apung Aquatec

Menurut Tata, keberhasilan tersebut bisa diwujudkan karena para pelaku budidaya ikan kerapu telah berpindah dari menggu­nakan keramba tradisional ke menggunakan keramba jaring apung HDPEdengan sistem yang modern. Keramba jaring apung tersebut terbuat dari bahan plastik jenis Prime Grade High Density Polyethylene (HDPE) yang di­rangkai berbentuk persegi serta dilengkapi dengan jaring monofilament tanpa simpul (knotless) yang kuat. Jaring tanpa simpul (knotless) merupakan jaring untuk budidaya ikan standard Jepang yang diterapkan di Indonesia, dipilih karena tidak melukai kulit ikan. Keramba jaring apungdengan merek Aquatec ini diproduksi oleh PT Gani Arta Dwitunggal.

Didi juga ikut merasakan kelebihan dari produk keramba jaring apung Aquatec. Menurut Didi, jika air laut sedang dalam kondisi gelombang tinggi, keramba jaring apung HDPE Aquatec sangat kuat terhadap arus dan gelombang yang menerpa. Para pembudidaya pun tidak takut jika keramba jaring apung yang digunakan akan mengalami kerusakan.

Semenjak masuknya keramba jaring apung HDPE Aquatec ke daerah Tanjung Lesung, para pembudidaya memiliki suatu pencerahan dengan diikuti hasil yang memuas­kan. Penggunaankeramba jaring apung HDPE ini dapat bertahan lama hingga puluhan tahun di ombak besar, sehingga para pembudidaya tidak perlu khawatir. Selain itu, investasi keramba jaring apung dapat kembali dalam waktu singkat dengan penjualan kerapu yang menguntungkan.

Didi menambahkan, keramba jaring apung Aquatec tidak panas jika diinjak di bawah sinar matahari yang terik oleh karena warnanya yang cerah, lain halnya dengan keramba jaring apungplastik lain yang berwarna gelap. Bentuknya yang elegan dan menarik juga ikut menjadi nilai tambah dari penggunaan keramba jaring apung ini. Kini, di Pandeglang telah terpasang lebih dari 500 petak keramba jaring apung Aquatec.

Dermaga Apung Aquatec

Selain keramba jaring apung, Aquatec juga ikut turut membantu pengembangan wisata di daerah Kabu­paten Pandeglang khu­susnya wisata bahari di Tanjung Lesung dengan dipasangnya dermaga apung di Pulau Liwungan. Dermaga apung tersebut digunakan untuk bersandarnya kapal bagi wisatawan yang berkun­jung. Selain itu, banyak wisatawan duduk di dermaga apung menik­mati sunset di sore hari. Seperti dikatakan oleh Bun selaku Kepala Bidang Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, “Dermaga apung ini merupakan program untuk mendukung pariwisata yang ada di daerah penyangga kawasan ekonomi khusus”.

Bun juga menyampaikan bahwa der­maga apung yang ada di pulau Liwungan tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa. Teknologi yang digunakan merupakan teknologi baru dan modern. Tidak seperti dermaga apung pada umumnya, alat apung dermaga apung Aquatec berbentuk silindris dengan sambungan flange, sehingga mampu menghadapi terjangan ombak dan dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Terlebih lagi, dermaga apung Aquatec di­perkuat dengan rangka Marine Alumunium dan papan Ecowood setebal 38 mm sebagai tempat beraktifitas. Apabila air laut sedang pasang, dermaga apung dapat menyesuaikan posisinya. Hal ini membuat dermaga apung dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk pembangunan Pulau Liwungan. Berbekal produk-produk kelautan dan perikanan yang berkualitas, Tanjung Lesung siap maju sebagai destinasi prioritas di Indonesia. TROBOS Aqua/Adv