loader
ID EN

Memelihara Ikan Tuna Dalam Keramba Jaring Apung Bundar Offshore

Memelihara Ikan Tuna Dalam Keramba Jaring Apung Bundar Offshore

Ikan tuna merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai tinggi. Banyak dikonsumsi di Jepang dengan cara disajikan sebagai sushi atau sashimi, ikan tuna sirip kuning (yellow fin tuna) memiliki nilai jual berkisar Rp. 70.000 - 190.000 per kilogram, sedangkan ikan tuna sirip biru (blue fin tuna) memiliki nilai jual berkisar Rp. 140.000 - 380.000 per kilogram di Indonesia. Harga ini akan meningkat pesat apabila ikan tuna dijual di negara Jepang, dan seiring dengan populernya restoran Jepang di berbagai negara, kini ikan tuna telah menjadi ikan konsumsi kelas atas internasional.

  Akan tetapi, tidak mudah untuk menjual ikan tuna ke negara Jepang dikarenakan standar kualitas sashimi grade negara Jepang yang sangat tinggi. Sayangnya, kebanyakan kapal penangkap ikan tuna di Indonesia adalah handline yang dilakukan secara manual, sehingga handlingnya tidak memadai untuk mendapatkan harga yang baik, sedangkan kapal penangkap ikan longline telah mengalami penurunan produksi yang drastis sejak tahun 2015. Dengan demikian, sedikit ikan tuna produksi Indonesia yang diekspor ke Jepang. Buktinya, saat ini Indonesia hanya menempati posisi ke 9 sebagai pengekspor ikan tuna dunia dengan total ekspor 167.000 ton pada tahun 2018, dengan posisi nomor 1 diduduki oleh Thailand.

Salah satu solusi untuk mendapatkan tuna dengan kualitas tinggi untuk mendapatkan sashimi grade Jepang adalah dengan memelihara ikan tuna dalam keramba jaring apung / KJA bundar offshore(lepas pantai). Dengan menerima ikan tuna sirip kuning atau ikan tuna sirip biru hidup hasil tangkapan handline nelayan kecil, dan memelihara ikan tuna tersebut di dalam KJA bundar offshore untuk menjalani proses fattening yang singkat, maka kualitas daging bisa dikontrol untuk mendapatkan grade yang tinggi.

  Memelihara ikan tuna memerlukan KJA bundar offshore dengan ukuran yang besar dan ketahanan terhadap ombak yang tinggi. Ukuran KJA bundar yang besar dibutuhkan karena ikan tuna berenang dengan kecepatan mencapai 40km/jam sehingga memerlukan area yang luas, dan KJA haruslah tahan terhadap ombak setinggi 4 meter untuk beroperasi di laut lepas pantai sehingga mendapatkan kualitas air yang baik. Untungnya, sudah ada perusahaan dalam negeri yang mampu memproduksi KJA bundar offshore untuk budidaya ikan tuna, yaitu PT. Gani Arta Dwitunggal dengan merk Aquatec. Pada tahun 2012, Aquatec bekerja sama dengan BBRBLPP Gondol berhasil memasang 4 unit KJA bundar offshore berdiameter 50 meter dan 1 unit KJA bundar offshore berdiameter 35 meter untuk memelihara ikan tuna sirip kuning di laut lepas pantai. Pada tahun 2013-2019, sejumlah KJA persegi, KJA segi delapan, dan KJA bundar offshore diameter 20 meter ditambahkan untuk memperluas kapasitas pemeliharaan ikan tuna.

Pada awalnya, BBRBLPP Gondol berhasil memijahkan dan mendederkan ikan tuna sirip kuning dan memeliharanya di dalam bak beton. Akan tetapi, setelah mencapai ukuran tertentu, pada saat fase kawin ikan tuna menabrak dinding beton dan mati. Oleh karenanya, pada tahun 2012 penelitian ikan tuna sirip kuning sempat terhenti dan tidak dapat dilanjutkan.

Solusi datang setelah KJA bundar offshore hasil kerjasama Aquatec dengan BBRBLPP Gondol terpasang. Ikan tuna ekor kuning kini dapat berenang dengan bebas di dalam KJA, dan proses pembesaran dan fattening dapat dilakukan. Untuk menjamin agar KJA bundar offshore mampu bertahan di tengah ombak setinggi 4 meter, Aquatec menerapkan proses penyambungan butt fusion pipa HDPE yang telah ditingkatkan, di mana sambungan pipa HDPE memiliki ketebalan hingga 2 kali dari ketebalan pipa HDPE sehingga menjadi 2 kali lebih kuat. Selain itu, ruang dalam pipa diberi sejumlah sekat kedap air sehingga terbagi menjadi sejumlah kompartemen-kompartemen terpisah untuk meningkatkan keamanan dan ketahanan KJA. Komponen KJA diproduksi secara injection (cetakan) menggunakan mesin berkapasitas tekanan 2100 ton, sehingga dihasilkan komponen yang utuh tanpa sambungan untuk kekuatan struktural yang maksimal.

Untuk model KJA bundar offshore keluaran Aquatec yang terbaru, jaring keramba yang dipakai adalah jaring UHMWPE (Ultra High Molecular Weight Polyethylene) tanpa simpul, yaitu jaring dengan kekuatan setara kawat baja yang tahan terhadap kebanyakan predator laut, namun memiliki permukaan yang halus sehingga tidak melukai sisik ikan ketika ikan bergesekan dengan jaring. Selain itu, pipa HDPE yang digunakan kini dilapisi dengan lapisan anti-biofouling untuk mencegah tumbuhnya lumut dan meminimalisasi maintenance.

Dengan memelihara ikan tuna di dalam KJA bundar offshore, kualitas daging ikan tuna dapat dimaksimalkan untuk mendapatkan grade dan harga terbaik di pasaran Jepang. Tidak hanya untuk komoditas ikan tuna, komoditas ikan perenang cepat lainnya juga dapat dibudidayakan di KJA bundar offshore seperti kakap putih (barramundi), bawal bintang, cobia, golden pompano, bandeng, dan lain sebagainya. Saat ini, sebanyak lebih dari 150 unit KJA bundar offshore Aquatec telah terpasang di seluruh Indonesia, dengan salah satu penggunanya adalah PT. Phillips Seafoods Indonesia untuk membudidayakan ikan kakap putih. Mari kembangkan ikan budidaya laut bersama Aquatec.